Indonesia 'Berlangganan' Banjir

 


(Sumber: Misbahul Aulia di Unsplash)

    Akhir-akhir ini, Indonesia kerap dilanda banjir. Hal ini berkaitan dengan masuknya musim hujan yang telah terjadi sejak bulan Oktober tahun 2020. Ribuan rumah terdampak banjir maupun banjir bandang yang sangat merugikan masyarakat. 

    Banyak berita banjir dirilis dari berbagai daerah. Diawali di Kabupaten Demak, Provisi Jawa Tengah, yang menerima banjir akibat dari luapan Sungai Tuntang pada hari pertama tahun 2021. Lalu, banjir terjadi di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, dengan ketinggian air mencapai 2 meter. Selanjutnya, banjir juga terjadi di Provinsi DKI Jakarta yang sudah berlangganan terkena banjir selama bertahun-tahun. Wilayah lain yang terkena banjir meliputi Provinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Bandung, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Gresik, Kota Manado, Provinsi Papua, dan daerah-daerah lainnya. Banjir paling baru yang menimpa wilayah Indonesia dan menyebabkan kerugian yang sangat besar ialah banjir di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dikabarkan hingga 11 April 2021, sebanyak 177 orang meninggal dunia akibat bencana alam tersebut dan 45 orang lainnya masih hilang.


(Sumber: BNPB 2019)

    Seperti yang dapat dilihat dari infografis rilisan BNPB di atas, diketahui bahwa bencana alam yang paling banyak terjadi pada tahun 2020 adalah banjir. Jumlah kejadian banjir pada tahun 2020 (dihitung dari 1 Januari hingga 1 Juli 2020) mencapai sebanyak 621 kejadian. Bencana alam terbanyak selanjutnya yang terjadi ialah puting beliung dan diikuti oleh tanah longsor dengan masing-masing jumlah kejadian 426 kejadian dan 332 kejadian. Sementara itu, pada bencana non alam epidemi Covid-19 memiliki jumlah kasus sebanyak 57.770 kasus. Jadi, dapat disimpulkan bahwa banjir merupakan bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia. Lalu, apa penyebab banjir-banjir tersebut dan mengapa Indonesia kerap kali dilanda banjir? 

Penyebab Banjir 

    Menurut BNPB, banjir adalah peristiwa atau keadaan di mana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat. Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air yang besar yang disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai. Banjir dan banjir bandang merupakan bencana alam yang dapat menimbulkan korban jiwa, merusak lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. 

    Banjir, terutama di Indonesia, terjadi disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi, yakni saat memasuki musim hujan. Rata-rata curah hujan di Indonesia berkisar antara 2.000-3.000 mm per tahun. Rata-rata curah hujan tahunan dataran di ketinggian 600-1.300 mdpl berkisar antara 2.300-2.800 mm per tahun. Sedangkan, wilayah di dataran rendah memiliki curah hujan yang lebih sedikit dibandingkan daerah dataran tinggi.

    Curah hujan yang sangat tinggi tersebut tidak didampingi dengan daerah resapan yang cukup sehingga air pun meluap. Di kota-kota besar seperti Jakarta, banjir dapat terjadi karena curah hujan yang ekstrem, unsur lingkungan, dan tata kelola kota, serta pembuangan sampah di sungai yang menghambat jalannya air. Sementara itu, banjir yang terjadi di daerah-daerah lainnya cenderung terjadi karena fenomena alam, seperti di Provinsi NTT yang terkena banjir akibat siklon tropis seroja. 

Banjir dan Epidemi Covid-19

    Bencana alam dan bencana non-alam yang terjadi sekaligus menjadi sebuah mimpi buruk yang bertumpuk. Sudah setahun lebih lamanya Indonesia terkena wabah pandemi Covid-19 dan di awal tahun 2021 harus mendapati bencana alam banjir yang meliputi banyak daerah. Kasus Covid-19 yang pertama kali terjadi di Indonesia ialah pada tanggal 2 Maret 2020. Lalu, banjir yang terjadi setelah kasus pertama tersebut ialah pada tanggal 24 Februari–10 Maret, 5–15 Maret, 31 Maret–3 April, 22–26 April, 22–30 Mei, 11–18 Juli. 
    Banjir dapat juga meningkatkan kasus Covid-19 di mana masyarakat akan berkumpul dalam rangka evakuasi dan menciptakan cluster baru. Selain itu, banjir yang terjadi pada masa pandemi ini dapat meningkatkan harga pangan. Inflasi menjadi berpotensi lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya.
    
    Untuk itu, dibutuhkan kebijakan dari para stakeholder dalam rangka mengontrol banjir dan mencegah terjadinya bencana alam tersebut. Prioritas harus ditetapkan dalam menangani bencana yang terjadi secara bersamaan, ditetapkan berdasarkan risikonya terhadap kehidupan manusia dan dengan potensi bahaya yang berdampak tinggi. Risiko tersebut mempertimbangkan bahaya fisik, sosial, lingkungan, dan ekonomi. Rencana yang matang dalam penanganan bencana juga diperlukan agar ke depannya, kerugian dapat diminimalisir dan penanganan-penanganan yang tidak efektif tidak terjadi. Sebaik-baik manajemen penanganan multi bencana ialah implementasinya (Alexander, 2020). 

Sumber:

Komentar

Posting Komentar