Pengangguran terhadap Kemiskinan Selama Pandemi COVID-19

(Sumber: Aldrin Rachman Pradana @aldrinrachmanpradana di Unsplash, https://unsplash.com/photos/Yn-vBI_W48E
 

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang banyak terjadi pada negara-negara di dunia. Kemiskinan masih menjadi sorot utama dalam masalah pembangunan negara. Tidak hanya dalam masalah perekonomian saja, kemiskinan menjadi fenomena multidimensional yang terdiri dari elemen-elemen sosial dan politik. Sen (2007) mengungkapkan pemikiran tentang kemiskinan dengan pendekatan yang lebih luas, yaitu bahwa kemiskinan timbul apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan-kemampuan utama, tidak memiliki pendapatan, atau mendapatkan pendidikan yang memadai, memiliki kondisi kesehatan yang buruk, merasa tidak aman, memiliki kepercayaan diri yang rendah atau suatu perasaan tidak berdaya atau tidak memiliki hak seperti kebebasan berbicara (Haughton dan Khandker 2009).

Untuk mengukur kemiskinan, PBB menggunakan cara tradisional yang mengukur berdasarkan pendapatan atau pengeluaran yang dikumpulkan di tingkat rumah tangga dan jumlah orang miskin yang dihitung dari jumlah orang yang tinggal di rumah tangga miskin. Di lain sisi, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut Garis Kemiskinan. 

Kemiskinan dibedakan menjadi tiga, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, dan kemiskinan kultural. Kemiskinan absolut didefinisikan sebagai golongan yang pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupanya. Sementara itu, kemiskinan relatif diartikan sebagai golongan yang sudah dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi keadaan ekonominya masih jauh lebih rendah daripada masyarakat di sekitarnya. Terakhir, dikatakan kemiskinan kultural apabila suatu golongan tidak mau berusaha memperbaiki hidupnya dan tidak dapat memperbaiki kualitas hidupnya walaupun telah dibantu oleh pihak lain.

Di masa pandemi COVID-19, ekonomi dunia melambat sehingga kemiskinan pun cenderung meningkat. Di Indonesia sendiri berdasarkan data BPS, persentase penduduk miskin pada September 2020 sebesar 10,19 persen, meningkat 0,41 persen poin terhadap Maret 2020 dan meningkat 0,97 persen poin terhadap September 2019. Jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, meningkat 1,13 juta orang terhadap Maret 2020 dan meningkat 2,76 juta orang terhadap September 2019. 

Di Provinsi NTB, jumlah penduduk miskin pada September 2020 tercatat sebesar 746,04 ribu orang (14,23 persen). Pada Maret 2020, jumlah penduduk miskin di Provinsi NTB sebesar 713,89 ribu orang (13,97 persen). Terlihat adanya kenaikan persentase penduduk miskin selama periode Maret 2020 – September 2020, yaitu sebesar 0,26 persen poin. Persentase penduduk miskin di Provinsi NTB melebihi persentase penduduk miskin nasional sehingga penulis menilai bahwa persentase ini cukup tinggi dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia.  

Penyebab meningkatnya angka kemiskinan ini terjadi karena beberapa faktor. Salah satu di antaranya ialah meningkatnya tingkat pengangguran. Berdasarkan data BPS, sebanyak 29,12 juta penduduk usia kerja (14,28 persen) terdampak COVID-19 pada Agustus 2020 di Indonesia. Di Provinsi NTB, terdapat 455,56 ribu orang (11,93 persen) penduduk usia kerja yang terkena dampak COVID-19. Terdiri dari pengangguran karena COVID-19 (28,39 ribu orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena COVID-19 (12,66 ribu orang), sementara tidak bekerja karena COVID-19 (35,66 ribu orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19 sebanyak 378,85 ribu orang.

Alasan

Saya sudah tertarik pada bidang ilmu ekonomi semenjak mengemban mata kuliah pengantar ekonomi mikro di tingkat I. Padahal sebelumnya, saya tidak benar-benar mengikuti perkembangan ekonomi dan mempelajarinya. Karena minat saya meningkat pada mata kuliah tersebut, saya berusaha mendalami ilmu ekonomi secara lebih dalam walaupun dihadapi oleh beberapa kendala seperti istilah-istilah yang masih asing.

Kemudian, untuk judul penelitian, saya melakukan pencarian terkait dengan masalah yang ada di provinsi tempat saya tinggal, Provinsi NTB. Masalah yang sudah lama ada dan baru-baru ini meningkat ialah masalah kemiskinan. Dari dulu, saya sudah memiliki pemikiran bahwa daya beli di daerah tempat saya tinggal ini masih rendah. Buktinya, beberapa pusat perbelanjaan tutup belum lama dari waktunya didirikan. Dari pemikiran itu, saya mencari permasalahan ekonomi di provinsi saya ini. Terbukti, masalah kemiskinannya masih tinggi, pengeluaran rumah tangganya rendah. Untuk itu, saya mengajukan judul penelitian yang sesuai dengan minat pribadi dan permasalahan di daerah tempat tinggal saya, yaitu "Analisis Pengaruh Tingkat Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi NTB Selama Pandemi COVID-19". 


Daftar pustaka

https://en.wikipedia.org/wiki/Poverty

unstats.un.org  

Berita Resmi Statistik, BPS

Retnowati, M.Si, D., & Harsuti S.E., M.Si. (2017). PENGARUH PENGANGGURAN TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI JAWA TENGAH. Sustainable Competitive Advantage (SCA), 6(1), 609. https://core.ac.uk/download/pdf/267947756.pdf

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia 'Berlangganan' Banjir