Mengkhianati Kesetiaan
Akhir-akhir ini, dunia maya dihebohkan dengan berita seorang selebgram yang terdaftar akan bercerai dengan suaminya di sebuah pengadilan. Ya, itulah, taulah siapa. Nggak usah disebut namanya nanti blog ini menjadi tempat julid seperti akun-akun besar di Twitter.
Awal skandalnya bermula dari ia (selebgram) melepas jilbabnya dengan tiba-tiba. Ia memutuskan untuk tidak berhijab lagi. Banyak pengikutnya yang kecewa melihat hal tersebut dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi padanya sehingga memutuskan untuk melakukan hal itu. Selama ini, ia memiliki citra yang baik karena sudah menerapkan parenting yang bagus pada anaknya, semakin baik ketika para warganet mengetahui bahwa ia memutuskan untuk berhijab di saat lingkungannya yang tidak mencerminkan keadaan seperti itu. Dari sini, warganet mencurigai tindakan 'melepas jilbab'-nya tersebut disebabkan oleh adanya konflik antara ia dan suaminya.
Kembali lagi ke awal, gosipnya, si suami selingkuh lagi. Entah karena hal itu (selingkuh) mereka akan bercerai atau karena ada hal lain, yang pasti para warganet sibuk memperbincangkan suaminya yang pernah selingkuh sesaat sebelum mereka menikah. Kabarnya, saat itu suaminya selingkuh hingga membuat selingkuhannya itu hamil. Luar biasa panas hingga kabar tersebut menjadi sangat viral dulu.
Kasus perselingkuhan ada dimana-mana, baik di kehidupan artis di televisi maupun di kehidupan sekeliling kita sehari-hari. Sedari kecil, saya tidak pernah setuju dengan perselingkuhan. Sinetron, film, dan drama korea yang saya tonton, buku yang saya baca, hubungan orang yang pernah terdengar hingga ke telinga saya, selalu memuakkan hati saya apabila terdapat kasus perselingkuhan di dalamnya.
Termasuk saat membaca novel karangan Nh. Dini yang berjudul Pada Sebuah Kapal. Butuh waktu berminggu minggu, bahkan berbulan-bulan bagi saya untuk menyelesaikannya. Ide berselingkuh di atas kapal karena Sri yang tidak puas akan pernikahanannya dengan suaminya yang kasar dan Michael (komandan kapal) yang terpincut oleh kecantikan Sri sehingga melepas kepentingan istri dan anak-anaknya, tidak akan pernah dapat masuk ke dalam hati saya. Saya tidak bisa menerima hal tersebut sama sekali. Susah bagi saya untuk membacanya karena isi buku tersebut menceritakan tentang perselingkuhan mereka. Mungkin karena saya besar dalam keluarga yang hampir tidak pernah ada kata 'mengkhianati pasangan sendiri'.
Bapak
dan Ibu saya, syukurnya, selama ini hampir tidak pernah mengkhianati satu sama
lain. Jadi, saya dibesarkan dengan mindset bahwa perselingkuhan itu
benar-benar hal yang buruk dan fatal. Sekali pasangan kita berselingkuh, maka
hatinya dan tubuhnya bukan untuk kita lagi.
Ada hal yang saya tentang keras dalam konsep
perselingkuhan, apapun motif dari pelakunya. Motif karena pasangan yang toxic,
KDRT, tidak puas akan kehidupan seksual, dan alasan-alasan lain yang tidak akan
pernah saya setujui. Bagi saya, hubungan tersebut harus diputus terlebih
dahulu. Kemudian, ia bisa mencari orang baru yang lebih baik. Selingkuh merupakan wujud
pengkhianatan cinta.
Perselingkuhan menyalahi salah satu kodrat cinta, yakni kesetiaan. Kita sudah memilih dia sebagai pasangan kita, hal ini mengindikasikan bahwa pasangan kita itulah tempat hati kita berpulang. Pada pasangan kita, terjalin sebuah komitmen dan sebuah janji tak kasatmata untuk menaruh kesetiaan kita pada mereka. Apabila hati kita sudah bercabang dan bukan untuk dia lagi, kita sudah tidak berpegang pada kesetiaan itu lagi.
Perselingkuhan tidak bisa ditoleransi. Menurut saya, ketika kita sudah memilih orang lain, tetapi kita sendiri berada di suatu hubungan, hatinya sudah berpindah, sebagian ataupun seluruhnya. Sekecil apapun hatinya terbagi untuk orang lain, hal ini merupakan wujud mengkhianati kesetiaan.
Anehnya, kebanyakan orang menormalisasi perselingkuhan. Orang-orang ini berlindung di balik kata "kesempatan kedua". Padahal, pelaku selingkuh sewaktu-waktu dapat mengulangi kesalahannya kembali. Belum lagi, dampak negatif yang akan dirasakan oleh korban. Korban akan merasa marah, sakit, bingung, dan patah hati. Perasaan malu dan rendah diri juga dirasakan korban karena pasangan yang selingkuh lebih memilih orang lain. Hal ini berdampak buruk bagi kesehatan mental korban, yang juga dapat membangun trust issues secara perlahan tanpa korban sadari dan terus terjebak dalam hubungan yang tak sehat.
Dalam sebuah
pernikahan, dampak perselingkuhan menjadi semakin rumit. Bagi saya dan mungkin
kebanyakan orang, pernikahan itu hal sakral yang harus terjadi sekali dalam
seumur hidup. Namun, beda kondisinya apabila sudah mempertimbangkan
keberadaan anak dan keutuhan rumah tangga. Hasilnya tergantung pada kasus di
balik perselingkuhan itu masing-masing. Saya menghargai orang-orang yang mau mempertahankannya walaupun harus menerima bebannya.
Meskipun begitu, perselingkuhan tetaplah perselingkuhan. Ada pepatah yang mengatakan, "Once a cheater, always a cheater". Sekali selingkuh, akan selalu selingkuh. Mereka yang sudah pernah selingkuh, besar kemungkinannya akan selingkuh lagi.
Ada satu solusi yang pernah saya baca untuk mereka yang ingin mengakhiri hubungan toxic dalam kehidupan pernikahan. Hubungan tersebut dapat diputus. Kemudian, dilanjutkan dengan menerapkan sistem co-parenting sehingga tidak mempengaruhi mental dan tumbuh-kembang anak. Kita juga tidak bisa memperkirakan kondisi anak ke depannya jika hubungan yang sudah broken itu tetap terjalin. Maka dari itu, co-parenting adalah solusinya.
Saya pribadi tidak menganjurkan untuk bercerai begitu saja. Perpisahan tentunya merupakan hal yang sangat berat untuk dilakukan. Bercerai menjadi pilihan solusi yang terakhir. Namun, hubungan yang tidak berjalan dua arah semestinya tidak usah dilanjutkan. Bukankah begitu?

Komentar
Posting Komentar