Mengulik Pariwisata di Kota Mataram, Tidak Hanya Pantai Saja!
Pantai Ampenan (Sumber: Dokumen pribadi)
Belum beranjak dari dampak gempa yang melanda Pulau Lombok pada tahun 2018 lalu, Kota Mataram harus menghadapi pandemi COVID-19 yang membuat pariwisata di Pulau Lombok, termasuk Kota Mataram, semakin terpuruk. Namun, terpuruknya sektor pariwisata di wilayah ini lantas tak mengurangi keindahan destinasi wisata yang berada di dalamnya. Malahan, pemerintah berupaya menambah daya tarik tempat wisata dan memperbaiki fasilitas-fasilitas publik yang dapat digunakan oleh wisatawan. Walaupun bukan menjadi kota tempat destinasi utama dari para wisatawan ke Pulau Lombok, Kota Mataram bisa menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin mencari kehidupan kota di sela-sela 'liburan ke pantai'-nya.
Dari jumlah wisatawan sendiri, BPS merilis data jumlah wisatawan di Kota Mataram pada tahun 2017 sebanyak 714.291 kunjungan. Angka ini menurun menjadi sebanyak 671.587 kunjungan pada tahun 2018 akibat gempa yang melanda Pulau Lombok selama berbulan-bulan. Kemudian pada tahun berikutnya, tahun 2019, angka kunjungan di Kota Mataram semakin menurun menjadi sebanyak 154.395 kunjungan. Wisatawan masih takut mengunjungi Pulau Lombok, ditambah lagi dengan pembangunan yang bangkit dengan pelan. Kunjungan semakin menurun lagi pada tahun 2020 akibat dari pandemi menjadi sebanyak 42.213 kunjungan atau sekitar 27,34 persen.
Sebanyak 42.213 kunjungan wisatawan tersebut terdiri dari 39.228 wisatawan domestik dan 2.985 kunjungan wisatawan asing. Sementara itu, pada tahun 2019, total jumlah kunjungan wisatawan di Kota Mataram sebanyak 134.395 kunjungan dengan 149.998 kunjungan wisatawan domestik dan 4.397 kunjungan wisatawan asing. Pada tahun 2018, total jumlah kunjungan wisatawan di Kota Mataram sebanyak 671.587 kunjungan dengan 653.362 kunjungan wisatawan domestik dan 18.225 kunjungan wisatawan asing. Angka yang semakin kini semakin menurun tersebut tentunya disebabkan oleh dampak gempa pada tahun 2018 dan diikuti oleh penyebaran COVID-19 pada tahun 2020 yang melanda Pulau Lombok, khususnya Kota Mataram.
Kendati demikian, jumlah tamu asing dan dalam negeri yang menginap di hotel bintang, serta jumlah tingkat hunian kamar di hotel bintang di Kota Mataram pada tahun 2020 tidak terlalu berbeda jauh daripada tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2019, total jumlah tamu asing dan dalam negeri yang menginap di hotel bintang di Kota Mataram sebanyak 360.381 orang dengan 11.175 orang tamu asing dan 349.206 orang tamu dalam negeri. Sedangkan, pada tahun 2020, total jumlah tamu asing dan dalam negeri yang menginap di hotel bintang di Kota Mataram sebanyak 221.134 orang dengan 2.972 orang tamu asing dan 218.162 tamu dalam negeri. Angka tersebut mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, tetapi tidak terlalu besar.
Di lain sisi, total jumlah tingkat penghunian kamar di hotel bintang di Kota Mataram pada tahun 2019 sebesar 43,68. Pada tahun 2020, total jumlah tingkat penghunian kamar menurun menjadi sebesar 34,60. Angka yang menurun tidak terlalu drastis tersebut mengindikasikan bahwa pariwisata Kota Mataram tetap bertahan walau kunjungan wisatawan menurun dengan drastis.
Destinasi Wisata
Taman Loang Baloq
Taman Loang Baloq merupakan sebuah taman yang juga disebut sebagai "Pantai Loang Baloq" karena lokasinya yang berada di pesisir pantai. Nama Loang Baloq dalam bahasa Sasak berarti "lubang beringin". Loang berarti lubang dan baloq memiliki 3 arti, yaitu nenek moyang, beringin, dan buaya. Dikatakan beringin karena Taman Loang Baloq ini berada di depan Makam Loang Baloq yang dipenuhi oleh pohon beringin.
Awalnya, pantai yang berada di Taman Loang Baloq tersebut adalah Pantai Tanjung Karang. Namun, karena dibangunnya taman yang sekaligus menjadi gerbang masuk ke pantai tersebut, taman dan pantai yang berada di depan taman tersebut secara praktis menjadi satu. Taman ini memiliki danau di tengah-tengahnya dan terdapat pula beberapa gazebo yang mengelilingi danau tersebut.
Taman Loang Baloq ini menjadi salah satu spot favorit bagi para pencinta senja. Pada waktu kapanpun, wisatawan dapat melihat matahari terbenam secara jelas dari taman ini. Lokasi taman ini berada di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela.
Pantai Ampenan
Pantai yang berada di pinggir Kota Mataram ini dulunya merupakan sebuah pelabuhan sehingga di sekitaran Pantai Ampenan terdapat banyak perkampungan yang masyarakatnya memiliki suku berbeda-beda. Di jalan masuk menuju Pantai Ampenan terdapat Wihara Bodhir Dharma yang menandakan banyak masyarakat dengan suku Tionghoa bermukim di sana. Terdapat juga suku-suku lain, seperti suku Arab dan suku Jawa, yang mendominasi daerah sekitaran pantai ini. Hal ini menjadi daya tarik Pantai Ampenan karena memiliki nuansa berbagai macam budaya dibandingkan daerah-daerah lainnya di Kota Mataram.
Sedari dulu, Pantai Ampenan sudah menjadi wisata ikonik di Kota Mataram. Masyarakat berbondong-bondong datang untuk sekadar menyantap makanan laut hingga melihat matahari terbenam, terutama saat weekend. Pantai Ampenan dipenuhi oleh segala kalangan masyarakat, dari kalangan anak muda hingga lansia.
Di Pantai Ampenan juga terdapat tempat bermain untuk anak-anak yang berada di tengah pelataran. Tidak ada karcis masuk untuk mengunjungi Pantai Ampenan, hanya membayar biaya parkir kendaraan. Pantai Ampenan menjadi tempat yang sangat cocok untuk dikunjungi karena kulinernya yang khas Lombok dan pemandangan yang indah, seperti wisata paket lengkap untuk rehat sejenak dari kesibukan sehari-sehari.
Kota Tua Ampenan
Di dekat Pantai Ampenan, terdapat daerah dengan bangunan-bangunan dengan gaya jaman dahulu atau vintage yang dinamakan Kota Tua Ampenan. Kota tua ini mirip-mirip dengan Kota Tua yang berada di Jakarta sana. Gaya arsitektur bangunan dibuat dengan ciri khas Belanda. Bedanya, bangunan-bangunan di daerah ini merupakan kompleks toko (pertokoan) yang hingga kini sebagian bangunannya masih menjadi pertokoan.
Taman Udayana
Terletak di tengah Kota Mataram, Taman Udayana merupakan ruang terbuka hijau yang memanjang di kiri dan kanan Jalan Udayana. Taman ini menjadi tempat ikonik selanjutnya dari Kota Mataram. Pada sore hari, masyarakat Kota Mataram beramai-ramai mengunjungi Taman Udayana untuk sekadar jalan-jalan menghirup udara segar dari pohon-pohon rindang yang tersebar sepanjang jalan dan berolahraga di fasilitas olahraga yang telah tersedia.
Setiap hari Minggu, Car Free Day diadakan di sepanjang Jalan Udayana di mana banyak lapak tersebar di sekitaran Taman Udayana. Lapak-lapak tersebut menjual makanan, minuman, dan barang-barang lainnya. Selain di lapak tersebut, terdapat juga warung-warung di pinggiran Jalan Udayana yang menyediakan sate Bulayak, makanan khas Pulau Lombok. Di sekitaran Jalan Udayana juga terdapat hotel, rumah makan, hingga kolam renang. Taman Udayana menjadi pusat kehidupan masyarakat Kota Mataram.
Masjid Hubbul Wathan atau Islamic Center NTB
Sebagai negara dengan penduduk yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, wisata religi seringkali menjadi perhitungan penting dalam berwisata ke daerah lain. Kota Mataram merupakan tempat yang pantas untuk dimasukkan ke dalam daftar destinasi wisata religi. Kota yang berada di pulau dengan sebutan "1.000 Masjid" ini memiliki islamic center yang baru dibangun pada tahun 2013 akhir.
Masjid yang berada di dalam kawasan islamic center ini memiliki ciri khas kubah yang bertemakan batik Sasambo (Sasak-Samawa-Mbojo, tiga suku yang berasal dari Provinsi NTB). Masjid ini memiliki 5 kubah dengan 4 kubah menara dan 1 kubah induk, serta dapat menampung hingga 15.000 jemaah. Warnanya yang kuning juga menjadi pencerahan bagi tata wilayah di tengah kota, begitu juga dengan kemegahan arsitekturnya yang mencengangkan. Lokasinya berada di Jalan Udayana.
Situs Bersejarah
Di Kota Mataram, terdapat juga beberapa situs bersejarah yang dapat dijadikan destinasi wisata yang tak kalah keren dari destinasi wisata lainnya. Situs-situs bersejarah ini berada di masing-masing kecamatan yang ada di Kota Mataram.
Di Kecamatan Ampenan, terdapat situs bersejarah Makam Bintaro. Di Kecamatan Sekarbela, Makam Loang Baloq menjadi daya tarik terbesar bagi para wisatawan karena terdapat makam salah satu wali yang menyebarkan agama Islam di Pulau Lombok. Di Kecamatan Cakranegara, terdapat dua situs bersejarah bagi umat Hindu, yakni Taman Mayura dan Pure Meru. Lalu, terdapat satu situs bersejarah lainnya, yaitu Makam Van Ham.
Selain situs bersejarah, satu per satu, tempat nongkrong anak muda, seperti kafe, mulai menjamur, menandakan optimisnya masyarakat Kota Mataram menghadapi dampak dari pandemi COVID-19 ini. Menjamurnya bisnis industri food and beverages ini juga menjadi nilai tambah bagi para wisatawan yang ingin berkunjung karena sudah menyediakan banyak spot instagramable layaknya kota-kota besar di Pulau Jawa. Untuk ke depannya, pariwisata Kota Mataram diharapkan dapat kembali bangkit dan memutar roda perekonomian masyarakat yang ada di dalamnya walaupun masih dalam masa pandemi COVID-19.
Sumber referensi:

Komentar
Posting Komentar